Bisnis Entrepreneurship

KUMIS CORONA: Kelola Uang di Masa Krisis Corona

Yudi Utomo – CEO BMU Nusantara

Halo apa kabar, temen-temen semua?

Semoga kita selalu dalam keadaan sehat ya dan tetap memupuk harapan positif bahwa kita akan melalui pagebluk covid-19 ini dengan baik seraya terus berikhtiar melakukan upaya-upaya yang dianjurkan oleh pemerintah. Amiin! Antisipasi wajib, parno jangan ya..

Sudah sebulan lebih berjalan kebijakan social distancing, yang berlaku efektif sejak 16 Maret 2020. Disusul dengan physical distancing dan yang terbaru adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diberlakukan diberbagai kabupaten/kota. Dampak sosial ekonomi yang muncul pun beragam. Berbagai acara hajatan masyarakat harus ditunda dulu atau terpaksa hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja jika tetap dilaksanakan, buruh atau karyawan gajinya dipotong hingga 70% atau bahkan dirumahkan tanpa batas waktu yang masih belum jelas alias kehilangan pekerjaan, omset usaha menurun drastis bahkan tutup sementara waktu, berbagai agenda harus ditunda dulu dan lain sebagainya. Kondisi yang memprihatikan bagi sebagian orang. Ntah sampai kapan. Presiden memprediksi pandemi corona ini akan berakhir pada akhir tahun 2020. Seorang kawan bilang jika kondisi ini masih berlanjut, sebanyak 1,25 milyar pekerja di dunia akan terdampak, mulai dari pengurangan jam kerja hingga PHK. Wallahu A’lam Bisshawab.

Tapi yang jelas, banyak orang yang terdampak dari sisi keuangan keluarga karena penghasilan yang berkurang atau mendadak kehilangan sumber penghasilan utamanya. Mengandalkan saldo saja tidak cukup jika sumber penghasilan terhenti dengan kondisi yang penuh ketidakpastian ini. Lantas, apa yang harus kita lakukan agar arus kas kita masih bisa aman jika kondisi ini masih terus berlanjut? Mari kita bahas bersama.

#1 Berpikir Positif

Ini menurut saya fondasi yang paling penting. Memupuk pikiran kita untuk tetap tenang dan berpikir positif di masa pagebluk covid-19 ini bisa membuat kita tidak kehilangan akal dan bisa tetap melakukan ikhtiar di masa-masa sulit ini. Pasalnya jika kita terpuruk dan tidak melakukan apa-apa, maka kondisi keuangan kita akan semakin terpuruk dan lama-lama akan berdampak pada cara berpikir kita. Orang lain yang akan disalahkan atas apa yang menimpa Anda.

Yang harus kita lakukan adalah menerima kondisi bahwa pagebluk covid-19 ini sebuah pandemi; virus corona ini juga melanda berbagai negara lainnya. Tercatat 200+ negara yang terdampak oleh virus ini. Daripada gabut #dirumahaja, mending liat angka saldo keuangan kita. Aman sampai berapa bulan ke depan? 1 bulan? 3 bulan? 6 bulan? Atau berapa bulan ke depan jika covid-19 ini belum berakhir?

Jadi, sekali lagi, mari kita tata dan lihat kondisi riil keuangan kita. Kita semua harus yakin bahwa di masa-masa sulit ini kita masih bisa melakukan sesuatu. Kita tidak sendiri. Orang lain juga terdampak kondisi keuangannya. Yang masih bisa dikontrol adalah cara berpikir kita, cara berpikir berbasis solusi, bukan masalah aja yang dipikirkan dan diobrolkan tanpa solusi. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah keuangan Anda. Kita masih bisa ikhtiar konkrit untuk menstabilkan kondisi keuangan keluarga. Oleh karenanya, mindset atau cara berpikir kita saat ini sangat penting!

#2 Lihat Status Saldo

Mungkin ada yang menyesal kenapa nggak sebelum-sebelumnya berhemat; kenapa nggak sebelum-sebelumnya menginvestasikan uang dari hasil jerih payah selama ini; Atau kenapa nggal terpikir untuk memiliki passive income pada saat uang lebih; atau kalimat-kalimat penyesalan lainnya.

Masa-masa sulit ini (seharusnya) mengajarkan kita untuk pintar-pintar mengelola keuangan kita. Coba cek berapa status kas Anda saat ini? Konkrit. Bukan kira-kira. Bagi yang selama ini rajin mencatat arus kas keuangan pribadi atau keluarga, hal ini mudah. Bagi yang belum, banyak aplikasi pencatatan di play store atau app store yang bisa Anda gunakan. Masih belum terlambat untuk mencatat arus keluar-masuk uang Anda.

Kembali lagi ke saldo, coba cek ada berapa duit tunai dan tabungan yang Anda miliki saat ini. Termasuk jika pasangan Anda atau orang yang tinggal serumah juga memiliki penghasilan. Ini penting agar Anda dapat memprediksi status kas terakhir bisa aman sampai kapan untuk memenuhi kebutuhan Anda dan keluarga.

Jika masih ada barang yang bisa diuangkan, akan lebih baik dijual daripada berhutang untuk menaikkan status saldo. Atau ada piutang yang masih di luar sana?

#3 Buat Daftar Pengeluaran Rutin Bulanan

Ketika Anda sudah mengetahui status kas atau uang tunai yang Anda miliki saat ini, buatlah daftar pengeluaran rutin Anda. Tuliskan secara rinci, bukan hanya dikira-kira atau hanya dalam pikiran Anda. Beberapa pengeluaran rutin itu biasanya mencakup:
(a). Biaya Konsumsi Keluarga, seperti makan dan minum atau kebutuhan pangan.
(b). Biaya Rutin Keluarga, seperti perlengkapan mandi, transportasi, komunikasi (pulsa dan internet), listrik, air dan lain sebagainya yang harus Anda penuhi untuk kebutuhan keluarga.
(c). Biaya Kewajiban, meliputi hutang atau tanggungan yang harus Anda bayarkan. Misalnya, cicilan motor, angsuran/kewajiban kepada orang lain atau lembaga tertentu, arisan, biaya pendidikan dan kesehatan, biaya investasi bulanan (reksadana, tabungan berjangka dan sejenisnya yang auto debet), biaya asuransi seperti BPJS dan sejenisnya, dan lain-lain yang menjadi kewajiban keluarga Anda. Yang membedakan antara Biaya Kewajiban vs Biaya Rutin adalah dampaknya. Biaya Rutin berdampak pada diri Anda, sementara biaya wajib berdampak pada Anda dan orang lain atau eksternal.
(d). Biaya lain-lain. Biaya yang tidak termasuk ke dalam 3 jenis biaya di atas, masukkan ke dalam biaya lain-lain.

Buatlah daftar pengeluaran bulanan Anda secara rinci dan dilengkapi dengan angka atau jumlah biayanya yang harus Anda keluarkan.

#4 Pangkas atau Hilangkan!

Setelah Anda mendaftar semua pengeluaran rutin Anda dan jumlahnya, saatnya Anda mereview semua pengeluaran tersebut. Dari semua daftar yang Anda buat, saya yakin ada yang bisa dihemat dari masing-masing kelompok biaya yang saya sebutkan di atas. Gunakan pendekatan:
KURANGI. Artinya, Anda bisa mengurangi jumlah biaya yang dikeluarkan. Misalnya, biaya makan di luar, pengeluaran transportasi dan lain sebagainya yang bisa dipangkas.
GANTI. Artinya, Anda bisa mengganti biaya konsumsi daging dengan yang lebih murah seperti dengan telur, tahu-tempe dan sejenisnya dengan catatan asupan gizi masih cukup agar Anda dan keluarga bisa berhemat. Anda juga bisa membeli kebutuhan dapur yang lebih murah. Saatnya Anda lebih jeli untuk membandingkan harga. Ingat, setiap rupiah itu berharga dan bisa digunakan untuk kebutuhan pokok lainnya. Orang bule bilang, “Every penny counts!”
HILANGKAN. Biaya-biaya atau kebutuhan yang sifatnya sekunder (pelengkap) atau tersier (mewah) saatnya dihilangkan. Pengeluaran untuk keperluan hobi, bersosialisasi atau sekedar memuaskan keinginan pribadi saatnya dipending dulu. Situasi pandemic ini penuh dengan ketidakpastian yang tidak bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol saat ini adalah perilaku keuangan kita.

Orang tua jaman dulu bilang, kita harus belajar hidup prihatin. Nah..saat ini adalah saat yang tepat untuk mempraktekkannya. Syukur-syukur tidak hanya saat masa covid-19 ini, tapi bisa terus Anda praktekkan demi kondisi keuangan keluarga yang lebih baik.

Tips nomor 2 hingga 4 penting agar Anda dapat menyusun anggaran keluarga agar tidak besar pasak daripada tiang. Tentu jika dipatuhi, itu bisa membantu Anda sendiri dan keluarga bertahan selama masa-masa sulit ini. Yang bisa membantu Anda tentu Anda sendiri bukan? Saatnya berhemat!

#5 Produktif dari Rumah!

Kondisi yang menganjurkan kita #dirumahaja tidak lantas membuat kita hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak produktif berlama-lama. Kita masih bisa mencari peluang yang bisa membantu kondisi keuangan keluarga. Coba kontak kawan lama, misalnya. Siapa tau ada peluang yang bisa dikerjakan bareng-bareng. Pikirkan tentang peluang-peluang untuk menambah saldo pemasukan keluarga.

Bukankah dalam perspektif pengusaha, dalam setiap masalah itu terdapat aroma duit bagi yang bisa membaca tanda-tanda? Tapi bukan mencari keuntungan pribadi dibalik kesusahan orang lain yaa gaes…saatnya solidarity economy ditumbuhkan. Bagi yang kelebihan uang, saatnya untuk berbagi kepada orang lain yang sangat membutuhkan. Bagi yang uangnya pas-pasan, saatnya berhemat sambil ikhtiar mencari pintu rejeki lainnya. Bagi yang kekurangan, jangan berkecil hati. Berkomunikasilah dengan saudara terdekat atau teman dekat, hubungi RT/RW terdekat. Siapa tau ada program pemerintah yang bisa meringankan ikhtiar Anda.

Saatnya bergandeng tangan di masa-masa sulit ini. Sambil setiap pihak mengerjakan porsi tugasnya pada masa krisis ini, mari kita juga membantu diri sendiri. Bantu diri Anda sendiri dulu dengan maksimal, yaitu dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik di masa krisis ini.

Ada tips tambahan? tulis di kolom komentar

 

Author

Yudi Utomo

Yudi Utomo adalah CEO dari BMU Nusantara yang juga Social Enterprise Enthusiast, Entrepreneurship & Livelihood Specialist

Comment (1)

  1. KUMIS CORONA: Saatnya Anda lebih Intim dengan Pasangan (Disclaimer: untuk 18+ dan sudah menikah) – UBICO – Kantor Konsultan dan Jasa Akuntansi, Pajak, Pembukuan, Laporan Keuangan
    22/04/2020

    […] yang belum tau kumis corona karena belum baca tulisan saya sebelumnya, itu singkatan dari Kelola Uang di Masa Krisis Corona. Lalu apa hubungannya dengan […]

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *